Senin, 21 September 2015

Ranu Regulo



Waktu itu aku sedang menikmati burung-burung “kugeruk” di danau Regulo, di dalam tenda, bersama temanku Tomas, Tomas yang nyebelin itu lho, waktu itu tidak ada hal lain selain asap kentut yang ku hirup di dalam tenda, bagaimana tidak aku ingin cepat-cepat pulang kalau teman setendaku tukang kentut tak beraturan, sayangnya aku gak bawa selang, kalau saja aku bawa selang, bisa jadi selangnya akan ku masukkan ke saluran kentutnya dan ku kembalikan lagi ke mulutnya, biar dia telan-telan sendiri kentutnya itu, Oh Tomas, kenapa hidupmu penuh kentut?

Tomas penuh kentut
          Untuk menghibur diriku sendiri aku sempat sedikit mengerjainya, aku buka smartphone ku, sebenarnya aku tidak setuju kalau benda ini dinamai smartphone, tapi ya sudahlah stuppid people, ku lanjutkan ceritaku ya sayang, aku buka google chrome, lalu aku buka beranda facebook, dengan wajah serius seperti biasanya, aku sedikit kaget “wow, aku bisa facebook-an”, aku sambil memperlihatkan tampilan beranda facebook pada Tomas, dia langsung buka smartphone-nya dan membuka facebook tapi tidak bisa, heuheuheu ternyata Tomas itu selain suka kentut juga sedikit anu. Heuheuheu.

          Dia ngeyel kenapa HP nya tidak bisa membuka facebook, haduuuhh gaes, aku juga gak bisa keules, aku tak tahan lama-lama berpura-pura facebook-an, wong dari tadi itu capture-an gaes, aku bilang saja kalau aku juga gak bisa online keules, seketika itu dia langsung kecewa, entah kecewa ku kerjain atau kecewa karena tidak bisa online, lagi-lagi sepi, tidak ada percakapan antara kami, di danau itu hanya ada kami berdua, tidak ada pendaki yang mau camping disini, cuma aku dan Tomas yang memang agak aneh.
          Suara angin, air, ranting-ranting jatuh, burung “kugeruk” yang masih sering menghantar bunyinya di telinga kami malam-malam itu membuatku tak ingin diam, sunyinya merdu tapi terlalu merdu, aku tak pernah mendengar sunyi yang sesunyi itu, meskipun ada smartphone yang sedang memutar lagu-lagu kesukaan Tomas, rasanya kurang kalau aku tidak menggaduhkan diri sendiri, lagi-lagi aku obrak-abrik smartphone ku, kira-kira ada apa disana, ternyata ada sample buku idolaku yang aku simpan, waktunya membaca.
 Menjelang petang

          Aku terselamatkan dari mata yang tak ingin tidur sedini ini, aku lihat jam tanganku ternyata masih jam 18:00, oh sayang... jam 18:00 aku sudah tidak ingin keluar tenda, di luar gelap sekali, biasanya kalau ke gunung-gunung yang lain jam segitu adalah waktu yang tepat untuk menikmati bulan yang berenang di danau, bintang-bintang yang saling berkedipan mata satu sama lain, suara-suara asing di balik rerumputan, gesekan-gesekan dedaunan saling bersalaman, sambil menyeruput kopi panas. Kali ini tidak sayang... terimakasih, selalin sunyi, dingin juga menjadi alasan Tomas tidak mau di luar tenda, padahal aku sangat tahu, jelas tahu kalau Tomas sebenarnya adalah lelaki penakut, hmmmm.

          Baiklah, akan ku kacaukan suara lagu di smartphone Tomas, akan ku ganti dengan suara ku membaca sample buku Jiwo J#ncuk oleh Sujiwo Tejo, sengaja aku baca keras-keras biar Tomas juga ikut mendengarnya, benar sekali sample buku itu membuat kami cekikikan di dalam tenda karena kalimat-kalimat anehnya Sujiwo Tejo, penelitian-penelitiannya yang remeh tapi selalu membuatku bilang “iya ya, bener”,  begitu juga buku-buku Sujiwo Tejo yang lain.

          Danau ini di kepung seribu cemara sayang, mungkinkah kau ingin kesini kapan-kapan?  Ah banyak tempat-tempat yang ingin aku singgahi bersamamu, tak harus selalu gunung, danau, atau sumber, seperti sumber maron. Aku selalu ingin tertawa kalau ingat sumber maron, karena sumber maron itu benar-benar tempatku bermain ketika kecil dulu, belajar berenang disana, meskipun sekarang gak bisa lagi berenang karena cidera bahu. Sekarang sumber maron jadi tempat wisata paling booming se Malang raya, heuheuheu.

Kamis, 05 Februari 2015

Rindu Adem

Aku merindukan bagian-bagian ini, menikmati kopi dikala kabut tipis turun perlahan diatas danau yang menjadikan bias cahaya menjalar membinarkan mata.
Teman terbaik juga sedang bersama kita, di mulut tenda dengan senyum gigi rapihnya, yang kadang-kadang juga suka kentut sembarangan di dalam tenda.


Menghitung detik demi detik peristiwa yang terjadi atas kuasa sang Khaliq di hadapan kita...


Menikmati dingin yang sebentar lagi disambut oleh mentari hangat yang menyegarkan punggung kita...


Menikmati makanan dari cheff teristimewa yang ada di sana...


Oh... aku merindukan bagian-bagian ini

Kamis, 29 Januari 2015

Rumah adalah Tujuan (Kutipan Perjalanan)

Sharing...

Bagi yang suka bepergian, yang bekerja di bidang travelling, yang pekerjaannya selalu berpindah dari satu kota ke kota lain, dari satu hotel ke hotel yang lain, yang tidurnya tak selalu di kasur, yang tidurnya suka berpindah-pindah tempat, yang lemarinya adalah tas/ransel/karier/koper/bagasi mobil/dimanapun, bisa jadi di setiap kota ada tempat untuk menitipkan baju.

Saya pernah merasakan bekerja yang berpindah-pindah tempat, saya pernah merasakan yang meetingnya di lobby-lobby hotel, pekerjaan itu membuat saya sering kangen rumah, pekerjaan itu sering membuat saya merasa jetlag meskipun saya tidak bepergian ke luar negeri, yang membuat jetlag adalah saya seperti lupa ingatan dengan pekerjaan-pekerjaan rumah saya, pekerjaan-pekerjaan kecil seperti mencuci baju, mencuci sepatu, mencuci kaos kaki, dan lain-lain.

yang saya pikirkan ketika sampai di rumah adalah ingin tidur, tidak ada yang mengganggu, sepulang kerja ingin merasakan tenangnya saat libur, dan saya sering menolak untuk bepergian lagi dengan teman-teman saya, karena saya merasa ingin di rumah saya ketika libur.

Seringkali ketika di dalam perjalanan dari kotaku ke kota lain, pikiran saya ada di rumah, membayangkan betapa enaknya kasur di rumah, betapa santainya nonton tv di rumah, hal yang paling saya rindukan adalah rumah, tujuan saya adalah rumah, jadi menurut saya bepergian ke suatu tempat bukanlah tujuan tapi rumahlah tujuan.

Vila Batu

 Villa Batu

 Hotel Agro Kusuma Batu

 Hotel Royal Senyiur Tretes

 
Hotel Ubud Malang, seminggu hidup di hotel seperti sudah kangen rumah sak mbun-mbunan

Hotel Singgasana Surabaya


Rabu, 05 November 2014

SIRAH KENCONG

Suatu tempat yang sangat tenang, penduduk mayoritas pemetik teh, setiap hari mereka berangkat di subuh hari dengan angkutan truk yang disediakan oleh PT. Perkebunan Nusantara XII Sirah Kencong, pulang di siang hari bersama truk yang sama.


Selengkapnya, baca disini
http://junapey.blogspot.com/2014/07/mlipir-alus-sirah-kencong-on-road.html

PANDERMAN MANNER - EDISI PISANG GORENG


Baiklah, Panderman kali ini bintang film-nya tetap +anke junafi  yang nangis kalo nggak tiga kali gak sah, nangis pertama di Tikungan beras Kuthah karena tergelimpang dari motor trill, nangis ke dua di Latar Ombo karena diweden-wedeni sama Cak Dion, nangis ke tiga waktu pagi-pagi karena ditinggal di tenda sendirian.

Kami ke Panderman cuma pindah tidur sama pindah masak aja.















Senin, 24 Maret 2014

Semalam Aku Ketiduran di PANDERMAN

Saya, Juna, Mbak Reni rencananya akan malam mingguan bersama Mbah Keraton, siapa itu Mbah Keraton? Orang yang terrkenal di gunung. hahahaha

Ini Dia Mbah Kera sama Juna

Jam 06:15 PM
Kami bertiga (saya, Juna, Mbak Reni) berangkat dari Jl. Hasyim Asyari (dekat alun-alun kota Malang) menuju Terminal Landungsari, saya dan Mbak Reni numpak motor, Juna naik angkot sendirian. Sedangkan Mbah Keraton berangkat dari negaranya Singosari.

Jam 07:00 PM
Saya dan Mbak Reni sampai di Terminal Landungsari, Mbah Keraton juga sudah sampai di Landungsari, disusul Juna, bertemulah kami berempat, salaman sik cek gak salah paham, rencananya separuh dari kami (2 orang) akan naik bus menuju Pesanggrahan Batu, lumayan lama menunggu busnya.

Iki jenenge ngenteni bus


Jam 07:45 PM
Akhirnya bus datang, Juna dan Mbak Reni naik bus, saya dan Mbah Keraton naik motor, dan kerennya saya menggendong tasnya Mbah Kera ukuran 150 lt FULL, yo iki sing nggarai aku sombong.

Lek iki aku niru gayae mbak Anik

Jam 08:15 PM
Kami sampai di depan Indomaret Pesanggrahan Batu 'Gerbang Menuju Panderman', Juna berbelanja logistik dulu di Indomaret, sambil berbelanja kami sambil menunggu Mas Budi, oiya Mas Budi itu temannya Cak Eko, rumahnya dekat-dekat sini, rencananya kami mau menitipkan motor di rumah Mas Budi. Setelah Juna selesai berbelanja, Mas Budi sudah senyum-senyum dari luar Indomaret.

Jam 08:30 PM
Juna dan Mbak Reni mulai lapar, kami ber-5 ke warung lalapan sebelah Indomaret, Juna dan Mbak Reni makan, saya dan Mbah Kera ngopi, dan Mas Budi ngeteh.

Nah, lek iki jenenge makan malam

Jam 09:30 PM
Makan malam selesai, persinggahan setelah ini adalah rumah Mas Budi, 5 menit dari Indomaret sudah sampai di rumah Mas Budi, baru selesai ngopi, eehh sama Mas Budi disuguhi kopi lagi, istimewa, suwun yo mas kopine, heheehe

Jam 10:00 PM
Dari rumah Mas Budi kami akan berangkat menuju pos perijinan, awalnya kami mau titip motor tapi ndak jadi karena di pos perijinan bisa parkir motor, dan Mas Budi + Adik Mas Budi mengantarkan kami sampai di Pos Perijinan.

Jam 10:30 PM
Kami sampai di Pos Perijinan, singgah lagi sebentar sembari mengurus perijinan dan parkir motor, dan Mbah Kera seakan bertemu kenalan lama (penjaga pos), mereka ngobrol.

Jam 11:00 PM
Kami memutuskan untuk mulai mendaki, berdo'a dulu sebelum kami benar-benar mendaki Panderman, buatku ini kali pertama saya mendaki, terkahir mendaki bulan Desember, di tengah-tengah kerinduanku akan gunung, tau-tau kami mendaki Panderman, saya berangkat tanpa persiapan, celana dipinjami Juna, Jaket dipinjami Juna, Sarung tangan juga dipinjami Juna, Buff dipinjami Juna, Kaos dipinjami Juna, pendakian kali ini ada yang berbeda, saya ndak bawa SB, tapi saya bawa selimutnya Juna, hahhahaha. mosok ke gunung bawa selimut, tapi bermanfaat :)

 Yo iki selimute

Jam 11:45 PM
Kami sampai di Latar Ombo, banyak yang mendirikan tenda disana, kami berhenti sejenaj, kata Mbah Kera '2 menit buat ngrokok', dan Mbah Kera mulai lapar, sambil rokokan sambil nyari-nyari roti di tas Mbak Reni, saya lihat jam tangan saya sudah jam 12:00 AM. Saatnya melanjutkan perjalanan lagi, dari Latar Ombo menuju Watu Gede.

Jam 12:00 AM
Saya mengajak berangkat lagi, dan langkah gontai mulai menghampiri, lapar membuat merusut-merusut, mata mulai tenglur, rasa sudah tidak tahu jatuh cinta apa bukan, ini jalan apa sungai kok licin begini, berdiri saja rasanya sudah ogah-ogahan, ngantuk campur mbuh opo, sak karepmu sayang... Watu Gede sudah terlewati, sekarang kita istirahat dulu di Puncak bayangan selama kurang lebih 15 menit.

Gak ngurus jam lagi, pokoke kita harus sampai di puncak 2000 mdpl ini, jam 02:00 AM, ternyata aku ketiduran di Panderman, loh kita sudah sampai to? hahahaha, saya pakai jurus dewa mabuk kayaknya, jalan aja sempoyongan, nglibet-nglibet tiba-tiba ketiduran di dalam tenda, kapan kita mendirikan tendanya?

Jam 05:30 AM
Suara-suara monyet, suara-suara orang-orang yang sudah bangun berisik sekali, ngapain sih mereka itu?, pas aku inguk-inguk ke luar, eh lakok di depan pintu tenda kami ono bokong gak kanggo, kudu tak sepak jane, tapi aku sadar, koyo ngunu iku gak apik, dadi tak usir alon-alon, mas-mas... permisi ya, bokongmu menghalangi pandanganku, mosok baru buka tenda pemandangane bokong, gak enak banget.
 Mas iki jarene ora popo, Rotine digondol Tenyom

Wes a, yang semestinya baru buka tenda itu pemandangannya embun, kabut, pohon2, langit, deh iki kok bokong, yoweslah, bokongnya sudah pergi, mari kita ikuti naluri untuk menikmati pagi yang kesiangan ini, sing penting nggunung, dan ngopi di ketinggian.



Ada cerita tentang Mbak Reni, Mbak Reni bangun paling bontot sendiri, dia bangun jam 09:00 AM, Mbak Reni ON selama 24 jam tanpa istirahat, dia berangkat dari jakarta jam 02:00 AM (kemaren),  makanya bangun paling bontot, wonder women yang selalu berpose seperti pahlawan bertopeng... bibibibibibippp

Jumat, 07 Februari 2014

Museum Ullen Sentalu - Kaliurang - Jogja Istimewa

Museum Ullen Sentalu, terletak di daerah Pakem, Kaliurang, Kabupaten Sleman, adalah museum yang menampilkan budaya dan kehidupan para bangsawan Dinasti Mataram (Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, Praja Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman) beserta koleksi bermacam-macam batik (baik gaya Yogyakarta maupun Surakarta).
Museum ini juga menampilkan tokoh raja-raja beserta permaisurinya dengan berbagai macam pakaian yang dikenakan sehari-harinya.

Nama Ullen Sentalu merupakan singkatan dari bahasa Jawa: “ULating bLENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku” yang artinya adalah “Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”. Filsafah ini diambil dari sebuah lampu minyak yang dipergunakan dalam pertunjukkan wayang kulit (blencong) yang merupakan cahaya yang selalu bergerak untuk mengarahkan dan menerangi perjalanan hidup kita. Museum ini didirikan oleh salah seorang bangsawan Yogyakarta yang dikenal sangat dekat dengan keluarga keraton Surakarta dan Yogyakarta.

Di Museum Ullen Sentalu, dapat diketahui bagaimana para leluhur Jawa membuat batik yang memiliki arti dan makna yang mendalam di dalam setiap coraknya. Ada juga berbagai sejarah mengenai keadaan budaya Jawa kuno dengan segala aturannya. Keadaan museum yang dibangun dengan baik, mampu membuat pengunjung seperti terserap ke masa Jawa kuno yang mengagumkan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Ullen_Sentalu)

Atau kamu bisa mengunjungi http://www.ullensentalu.com/profile.php.

Pertama kali masuk kita dibawa menelusuri Goa Sela Giri yang dinding-dindingnya dibangun dari material batu yang langsung diambil dari Gunung Merapi menuju ruang Seni dan Gamelan, Di ruangan luas ini terdapat seperangkat gamelan yang merupakan hadiah dari Kesultanan Yogyakarta. Sayang sekali saya dan teman-teman saya tertinggal beberapa menit dari rombongan yang ada di depan kami.

Ruangan setelah ruang seni dan gamelan adalah ruang pamer foto para tokoh dari 4 keraton Kerajaan Mataram. Masing-masing lukisan dan foto punya cerita sendiri, salah satunya adalah lukisan 3 dimensi. Mata wanita di lukisan ini akan mengikuti langkahmu kemana pun kamu melangkah, penjelasan guide yang sangat detail juga cepat tak banyak tercatat olehku, salah satu yang saya ingat juga adalah Raja yang punya 2 permaisuri dan 39 selir yaitu Pakubuwono X1, heuheuheu.


Setelah lorong itu kami berjalan lagi menuju Ruang Puisi. Di sini terdapat kumpulan puisi yang ditulis untuk Tineke, putri Sunan Surakarta yaitu Pakubuwono XI. Pada waktu itu, Tineke sedang mengalami jatuh cinta pada seorang pangeran dari kerajaan lain tapi tidak direstui oleh orang tua Tineke karena beda kasta. Puisi-puisi itu ditulis dari tahun 1939-1947, ditulis oleh para sepupu dan sahabat Tineke untuk menghibur Tineke biar cepet move-on.

Ini lho salah satu Puisi yang sempat saya catat

Tineke Sayang

Yang terakhir dalam albummu
Itu tetap saya ingat
Yang terakhir dalam hatimu
Itu sungguh akan menyakitkan

Sahabat Wanitamu
Jile Portier
Pakubuwono X1 (Foto Dinding) - Sengaja menggemukkan badannya supaya pangkat yang dipajang dibajunya muat.

Setelah itu, kami dibawa mengarungi kebudayaan batik di Ruang Batik Vorstendlanden dan Ruang Batik Pesisiran (Batik Solo dan Batik Jogja). disana terdapat koleksi batik dari era Sultan Hamengkubuwono VII hingga Sultan Hamengkubuwono VIII. Batik dari solo terlihat lebih femininim daripada batik dari Jogja, warna yang mendominasi Batik Solo adalah warna coklat muda sedangkan warna yang mendominasi Batik Jogja adalah warna coklat tua.


Sekarang kami menuju Ruang Putri Dambaan, sebuah ruangan yang khusus dibuat untuk putri tunggal Mangkunegara VII yaitu Siti Nurul Kusumawardhani. Sesuai namanya, beliau memang putri dambaan banyak pria. Kecantikannya tersohor lintas kerajaan. Ir. Soekarno dulu juga mendambakan putri cantik ini dan melamarnya, tapi karna prinsipnya yang tak mau dipoligami (dan satu satunya putri yang menentang tak mau di poligami) maka lamaran Ir. Soekarno ditolak. Gusti Nurul menikah di usia 32 tahun dengan lelaki yang dicintainya. Di ruangan ini terdapat dokumentasi foto semasa dirinya kecil, hingga sekarang berusia 91 tahun dan tinggal di Bandung, Jawa Barat.

Rungan Gusti Nurul lengkap dengan patung beliau dan saya menyenggolnya sedikit, degdegan lek sampek ceblok aku langsung pura-pura mati.


Beliau pandai berkuda, pandai menari, ah pokoke sip wes, cantik, pinter, dan saya suka :D


Dan sebenarnya, waktu saya menulis ini saya banyak browsing karena saya banyak lupa tentang rute di dalam Museum Ullen Sentalu, tapi ora popo, yang saya lupa diantaranya istirahat dulu apa melewati koridor yang dipajang Arca dewa dewi Hindu dan Budha.





kami sedang menikamati minuman Ratu Mas yang kata pemandunya bisa bikin awet muda
(merasa awet muda)

Sekarang kami memasuki koridor yang berjejer patung Archa menuju ruang lukisan, salah satu lukisan yang ada disana adalah lukisan bedaya ketawang,


Dalam foto kanan lukisan ini ada lukisan bayangan satu penari, penari bayangan Nyi Roro Kidul

Ini jalan menuju foto yang di samping, gerbang menuju taman.

Juna (Abu-abu)
Mbak Mustami'ah (Hijau)
Yolla (Baju kotak-kotak)
Luki (Kaos hitam)
 
Mbak melankolis (Wulan), Juna, Ibu Negara (Anik), Molly

Mus, Mol, Yolla, Mbak Siska, Irwan+Shanum, Mbak Wulan, Pawe

Foto paling gak nguati yo iki, diantara dua pilihan hahaha

Molly

MUSEUM ULLEN SENTALU
Address.
Jalan Boyong Kaliurang, Sleman Yogyakarta, Indonesia.
Phone. +62 274 895161
Opening Hours.
Tuesday - Monday at 9.00 am - 3.30 pm.
Entrance Ticket.
International, IDR 50.000
Domestic, IDR 30.000