Sebentar lagi ada libur panjang, sudah satu tahun saya gak posting di blog ini. bukan karena saya gak pernah kemana-mana tapi karena kesibukan saya jadi gak pernah nge blog di sini, sebenarnya alasannya bukan itu juga sih, tapi karena males nulis catatan perjalanan.
gak tau kenapa, mungkin karena faktor usia. tapi bulan mei nanti saya janji deh... liburannya bakal saya posting lengkap.
Selasa, 26 April 2016
Senin, 21 September 2015
Ranu Regulo
Waktu
itu aku sedang menikmati burung-burung “kugeruk” di danau Regulo, di dalam
tenda, bersama temanku Tomas, Tomas yang nyebelin itu lho, waktu itu tidak ada
hal lain selain asap kentut yang ku hirup di dalam tenda, bagaimana tidak aku
ingin cepat-cepat pulang kalau teman setendaku tukang kentut tak beraturan,
sayangnya aku gak bawa selang, kalau saja aku bawa selang, bisa jadi selangnya
akan ku masukkan ke saluran kentutnya dan ku kembalikan lagi ke mulutnya, biar
dia telan-telan sendiri kentutnya itu, Oh Tomas, kenapa hidupmu penuh kentut?
Tomas penuh kentut
Untuk menghibur diriku sendiri aku
sempat sedikit mengerjainya, aku buka smartphone
ku, sebenarnya aku tidak setuju kalau benda ini dinamai smartphone, tapi ya sudahlah stuppid
people, ku lanjutkan ceritaku ya sayang, aku buka google chrome, lalu aku buka beranda facebook, dengan wajah serius seperti biasanya, aku sedikit kaget
“wow, aku bisa facebook-an”, aku
sambil memperlihatkan tampilan beranda facebook pada Tomas, dia langsung buka smartphone-nya dan membuka facebook tapi tidak bisa, heuheuheu
ternyata Tomas itu selain suka kentut juga sedikit anu. Heuheuheu.
Dia ngeyel kenapa HP nya tidak bisa
membuka facebook, haduuuhh gaes, aku
juga gak bisa keules, aku tak tahan lama-lama berpura-pura facebook-an, wong dari tadi itu capture-an
gaes, aku bilang saja kalau aku juga gak bisa online keules, seketika itu dia langsung kecewa, entah kecewa ku
kerjain atau kecewa karena tidak bisa online,
lagi-lagi sepi, tidak ada percakapan antara kami, di danau itu hanya ada kami
berdua, tidak ada pendaki yang mau camping disini, cuma aku dan Tomas yang
memang agak aneh.
Suara angin, air, ranting-ranting
jatuh, burung “kugeruk” yang masih sering menghantar bunyinya di telinga kami
malam-malam itu membuatku tak ingin diam, sunyinya merdu tapi terlalu merdu,
aku tak pernah mendengar sunyi yang sesunyi itu, meskipun ada smartphone yang sedang memutar lagu-lagu
kesukaan Tomas, rasanya kurang kalau aku tidak menggaduhkan diri sendiri,
lagi-lagi aku obrak-abrik smartphone
ku, kira-kira ada apa disana, ternyata ada sample
buku idolaku yang aku simpan, waktunya membaca.
Menjelang petang
Aku terselamatkan dari mata yang tak
ingin tidur sedini ini, aku lihat jam tanganku ternyata masih jam 18:00, oh
sayang... jam 18:00 aku sudah tidak ingin keluar tenda, di luar gelap sekali,
biasanya kalau ke gunung-gunung yang lain jam segitu adalah waktu yang tepat
untuk menikmati bulan yang berenang di danau, bintang-bintang yang saling
berkedipan mata satu sama lain, suara-suara asing di balik rerumputan,
gesekan-gesekan dedaunan saling bersalaman, sambil menyeruput kopi panas. Kali
ini tidak sayang... terimakasih, selalin sunyi, dingin juga menjadi alasan
Tomas tidak mau di luar tenda, padahal aku sangat tahu, jelas tahu kalau Tomas
sebenarnya adalah lelaki penakut, hmmmm.
Baiklah, akan ku kacaukan suara lagu
di smartphone Tomas, akan ku ganti
dengan suara ku membaca sample buku
Jiwo J#ncuk oleh Sujiwo Tejo, sengaja aku baca keras-keras biar Tomas juga ikut
mendengarnya, benar sekali sample buku itu membuat kami cekikikan di dalam
tenda karena kalimat-kalimat anehnya Sujiwo Tejo, penelitian-penelitiannya yang
remeh tapi selalu membuatku bilang “iya ya, bener”, begitu juga buku-buku Sujiwo Tejo yang lain.
Kamis, 05 Februari 2015
Rindu Adem
Aku merindukan bagian-bagian ini, menikmati kopi dikala kabut tipis turun perlahan diatas danau yang menjadikan bias cahaya menjalar membinarkan mata.
Teman terbaik juga sedang bersama kita, di mulut tenda dengan senyum gigi rapihnya, yang kadang-kadang juga suka kentut sembarangan di dalam tenda.
Menghitung detik demi detik peristiwa yang terjadi atas kuasa sang Khaliq di hadapan kita...
Menikmati dingin yang sebentar lagi disambut oleh mentari hangat yang menyegarkan punggung kita...
Menikmati makanan dari cheff teristimewa yang ada di sana...
Oh... aku merindukan bagian-bagian ini
Teman terbaik juga sedang bersama kita, di mulut tenda dengan senyum gigi rapihnya, yang kadang-kadang juga suka kentut sembarangan di dalam tenda.
Menghitung detik demi detik peristiwa yang terjadi atas kuasa sang Khaliq di hadapan kita...
Menikmati dingin yang sebentar lagi disambut oleh mentari hangat yang menyegarkan punggung kita...
Menikmati makanan dari cheff teristimewa yang ada di sana...
Oh... aku merindukan bagian-bagian ini
Kamis, 29 Januari 2015
Rumah adalah Tujuan (Kutipan Perjalanan)
Sharing...
Bagi yang suka bepergian, yang bekerja di bidang travelling, yang pekerjaannya selalu berpindah dari satu kota ke kota lain, dari satu hotel ke hotel yang lain, yang tidurnya tak selalu di kasur, yang tidurnya suka berpindah-pindah tempat, yang lemarinya adalah tas/ransel/karier/koper/bagasi mobil/dimanapun, bisa jadi di setiap kota ada tempat untuk menitipkan baju.
Saya pernah merasakan bekerja yang berpindah-pindah tempat, saya pernah merasakan yang meetingnya di lobby-lobby hotel, pekerjaan itu membuat saya sering kangen rumah, pekerjaan itu sering membuat saya merasa jetlag meskipun saya tidak bepergian ke luar negeri, yang membuat jetlag adalah saya seperti lupa ingatan dengan pekerjaan-pekerjaan rumah saya, pekerjaan-pekerjaan kecil seperti mencuci baju, mencuci sepatu, mencuci kaos kaki, dan lain-lain.
yang saya pikirkan ketika sampai di rumah adalah ingin tidur, tidak ada yang mengganggu, sepulang kerja ingin merasakan tenangnya saat libur, dan saya sering menolak untuk bepergian lagi dengan teman-teman saya, karena saya merasa ingin di rumah saya ketika libur.
Seringkali ketika di dalam perjalanan dari kotaku ke kota lain, pikiran saya ada di rumah, membayangkan betapa enaknya kasur di rumah, betapa santainya nonton tv di rumah, hal yang paling saya rindukan adalah rumah, tujuan saya adalah rumah, jadi menurut saya bepergian ke suatu tempat bukanlah tujuan tapi rumahlah tujuan.
Bagi yang suka bepergian, yang bekerja di bidang travelling, yang pekerjaannya selalu berpindah dari satu kota ke kota lain, dari satu hotel ke hotel yang lain, yang tidurnya tak selalu di kasur, yang tidurnya suka berpindah-pindah tempat, yang lemarinya adalah tas/ransel/karier/koper/bagasi mobil/dimanapun, bisa jadi di setiap kota ada tempat untuk menitipkan baju.
Saya pernah merasakan bekerja yang berpindah-pindah tempat, saya pernah merasakan yang meetingnya di lobby-lobby hotel, pekerjaan itu membuat saya sering kangen rumah, pekerjaan itu sering membuat saya merasa jetlag meskipun saya tidak bepergian ke luar negeri, yang membuat jetlag adalah saya seperti lupa ingatan dengan pekerjaan-pekerjaan rumah saya, pekerjaan-pekerjaan kecil seperti mencuci baju, mencuci sepatu, mencuci kaos kaki, dan lain-lain.
yang saya pikirkan ketika sampai di rumah adalah ingin tidur, tidak ada yang mengganggu, sepulang kerja ingin merasakan tenangnya saat libur, dan saya sering menolak untuk bepergian lagi dengan teman-teman saya, karena saya merasa ingin di rumah saya ketika libur.
Seringkali ketika di dalam perjalanan dari kotaku ke kota lain, pikiran saya ada di rumah, membayangkan betapa enaknya kasur di rumah, betapa santainya nonton tv di rumah, hal yang paling saya rindukan adalah rumah, tujuan saya adalah rumah, jadi menurut saya bepergian ke suatu tempat bukanlah tujuan tapi rumahlah tujuan.
Vila Batu
Villa Batu
Hotel Agro Kusuma Batu
Hotel Royal Senyiur Tretes

Hotel Ubud Malang, seminggu hidup di hotel seperti sudah kangen rumah sak mbun-mbunan
Hotel Singgasana Surabaya
Rabu, 05 November 2014
SIRAH KENCONG
Suatu tempat yang sangat tenang, penduduk mayoritas pemetik teh, setiap hari mereka berangkat di subuh hari dengan angkutan truk yang disediakan oleh PT. Perkebunan Nusantara XII Sirah Kencong, pulang di siang hari bersama truk yang sama.
Selengkapnya, baca disini
http://junapey.blogspot.com/2014/07/mlipir-alus-sirah-kencong-on-road.html
Selengkapnya, baca disini
http://junapey.blogspot.com/2014/07/mlipir-alus-sirah-kencong-on-road.html
PANDERMAN MANNER - EDISI PISANG GORENG
Baiklah, Panderman kali ini bintang film-nya tetap +anke junafi yang nangis kalo nggak tiga kali gak sah, nangis pertama di Tikungan beras Kuthah karena tergelimpang dari motor trill, nangis ke dua di Latar Ombo karena diweden-wedeni sama Cak Dion, nangis ke tiga waktu pagi-pagi karena ditinggal di tenda sendirian.
Kami ke Panderman cuma pindah tidur sama pindah masak aja.
Senin, 24 Maret 2014
Semalam Aku Ketiduran di PANDERMAN
Saya, Juna, Mbak Reni rencananya akan malam mingguan bersama Mbah Keraton, siapa itu Mbah Keraton? Orang yang terrkenal di gunung. hahahaha
Jam 06:15 PM
Kami bertiga (saya, Juna, Mbak Reni) berangkat dari Jl. Hasyim Asyari (dekat alun-alun kota Malang) menuju Terminal Landungsari, saya dan Mbak Reni numpak motor, Juna naik angkot sendirian. Sedangkan Mbah Keraton berangkat dari negaranya Singosari.
Jam 07:00 PM
Saya dan Mbak Reni sampai di Terminal Landungsari, Mbah Keraton juga sudah sampai di Landungsari, disusul Juna, bertemulah kami berempat, salaman sik cek gak salah paham, rencananya separuh dari kami (2 orang) akan naik bus menuju Pesanggrahan Batu, lumayan lama menunggu busnya.
Jam 07:45 PM
Akhirnya bus datang, Juna dan Mbak Reni naik bus, saya dan Mbah Keraton naik motor, dan kerennya saya menggendong tasnya Mbah Kera ukuran 150 lt FULL, yo iki sing nggarai aku sombong.
Jam 08:15 PM
Kami sampai di depan Indomaret Pesanggrahan Batu 'Gerbang Menuju Panderman', Juna berbelanja logistik dulu di Indomaret, sambil berbelanja kami sambil menunggu Mas Budi, oiya Mas Budi itu temannya Cak Eko, rumahnya dekat-dekat sini, rencananya kami mau menitipkan motor di rumah Mas Budi. Setelah Juna selesai berbelanja, Mas Budi sudah senyum-senyum dari luar Indomaret.
Jam 08:30 PM
Juna dan Mbak Reni mulai lapar, kami ber-5 ke warung lalapan sebelah Indomaret, Juna dan Mbak Reni makan, saya dan Mbah Kera ngopi, dan Mas Budi ngeteh.
Jam 09:30 PM
Makan malam selesai, persinggahan setelah ini adalah rumah Mas Budi, 5 menit dari Indomaret sudah sampai di rumah Mas Budi, baru selesai ngopi, eehh sama Mas Budi disuguhi kopi lagi, istimewa, suwun yo mas kopine, heheehe
Jam 10:00 PM
Dari rumah Mas Budi kami akan berangkat menuju pos perijinan, awalnya kami mau titip motor tapi ndak jadi karena di pos perijinan bisa parkir motor, dan Mas Budi + Adik Mas Budi mengantarkan kami sampai di Pos Perijinan.
Jam 10:30 PM
Kami sampai di Pos Perijinan, singgah lagi sebentar sembari mengurus perijinan dan parkir motor, dan Mbah Kera seakan bertemu kenalan lama (penjaga pos), mereka ngobrol.
Jam 11:00 PM
Kami memutuskan untuk mulai mendaki, berdo'a dulu sebelum kami benar-benar mendaki Panderman, buatku ini kali pertama saya mendaki, terkahir mendaki bulan Desember, di tengah-tengah kerinduanku akan gunung, tau-tau kami mendaki Panderman, saya berangkat tanpa persiapan, celana dipinjami Juna, Jaket dipinjami Juna, Sarung tangan juga dipinjami Juna, Buff dipinjami Juna, Kaos dipinjami Juna, pendakian kali ini ada yang berbeda, saya ndak bawa SB, tapi saya bawa selimutnya Juna, hahhahaha. mosok ke gunung bawa selimut, tapi bermanfaat :)
Jam 11:45 PM
Kami sampai di Latar Ombo, banyak yang mendirikan tenda disana, kami berhenti sejenaj, kata Mbah Kera '2 menit buat ngrokok', dan Mbah Kera mulai lapar, sambil rokokan sambil nyari-nyari roti di tas Mbak Reni, saya lihat jam tangan saya sudah jam 12:00 AM. Saatnya melanjutkan perjalanan lagi, dari Latar Ombo menuju Watu Gede.
Jam 12:00 AM
Saya mengajak berangkat lagi, dan langkah gontai mulai menghampiri, lapar membuat merusut-merusut, mata mulai tenglur, rasa sudah tidak tahu jatuh cinta apa bukan, ini jalan apa sungai kok licin begini, berdiri saja rasanya sudah ogah-ogahan, ngantuk campur mbuh opo, sak karepmu sayang... Watu Gede sudah terlewati, sekarang kita istirahat dulu di Puncak bayangan selama kurang lebih 15 menit.
Gak ngurus jam lagi, pokoke kita harus sampai di puncak 2000 mdpl ini, jam 02:00 AM, ternyata aku ketiduran di Panderman, loh kita sudah sampai to? hahahaha, saya pakai jurus dewa mabuk kayaknya, jalan aja sempoyongan, nglibet-nglibet tiba-tiba ketiduran di dalam tenda, kapan kita mendirikan tendanya?
Jam 05:30 AM
Suara-suara monyet, suara-suara orang-orang yang sudah bangun berisik sekali, ngapain sih mereka itu?, pas aku inguk-inguk ke luar, eh lakok di depan pintu tenda kami ono bokong gak kanggo, kudu tak sepak jane, tapi aku sadar, koyo ngunu iku gak apik, dadi tak usir alon-alon, mas-mas... permisi ya, bokongmu menghalangi pandanganku, mosok baru buka tenda pemandangane bokong, gak enak banget.
Wes a, yang semestinya baru buka tenda itu pemandangannya embun, kabut, pohon2, langit, deh iki kok bokong, yoweslah, bokongnya sudah pergi, mari kita ikuti naluri untuk menikmati pagi yang kesiangan ini, sing penting nggunung, dan ngopi di ketinggian.
Ada cerita tentang Mbak Reni, Mbak Reni bangun paling bontot sendiri, dia bangun jam 09:00 AM, Mbak Reni ON selama 24 jam tanpa istirahat, dia berangkat dari jakarta jam 02:00 AM (kemaren), makanya bangun paling bontot, wonder women yang selalu berpose seperti pahlawan bertopeng... bibibibibibippp
Ini Dia Mbah Kera sama Juna
Jam 06:15 PM
Kami bertiga (saya, Juna, Mbak Reni) berangkat dari Jl. Hasyim Asyari (dekat alun-alun kota Malang) menuju Terminal Landungsari, saya dan Mbak Reni numpak motor, Juna naik angkot sendirian. Sedangkan Mbah Keraton berangkat dari negaranya Singosari.
Jam 07:00 PM
Saya dan Mbak Reni sampai di Terminal Landungsari, Mbah Keraton juga sudah sampai di Landungsari, disusul Juna, bertemulah kami berempat, salaman sik cek gak salah paham, rencananya separuh dari kami (2 orang) akan naik bus menuju Pesanggrahan Batu, lumayan lama menunggu busnya.
Iki jenenge ngenteni bus
Jam 07:45 PM
Akhirnya bus datang, Juna dan Mbak Reni naik bus, saya dan Mbah Keraton naik motor, dan kerennya saya menggendong tasnya Mbah Kera ukuran 150 lt FULL, yo iki sing nggarai aku sombong.
Lek iki aku niru gayae mbak Anik
Kami sampai di depan Indomaret Pesanggrahan Batu 'Gerbang Menuju Panderman', Juna berbelanja logistik dulu di Indomaret, sambil berbelanja kami sambil menunggu Mas Budi, oiya Mas Budi itu temannya Cak Eko, rumahnya dekat-dekat sini, rencananya kami mau menitipkan motor di rumah Mas Budi. Setelah Juna selesai berbelanja, Mas Budi sudah senyum-senyum dari luar Indomaret.
Jam 08:30 PM
Juna dan Mbak Reni mulai lapar, kami ber-5 ke warung lalapan sebelah Indomaret, Juna dan Mbak Reni makan, saya dan Mbah Kera ngopi, dan Mas Budi ngeteh.
Nah, lek iki jenenge makan malam
Jam 09:30 PM
Makan malam selesai, persinggahan setelah ini adalah rumah Mas Budi, 5 menit dari Indomaret sudah sampai di rumah Mas Budi, baru selesai ngopi, eehh sama Mas Budi disuguhi kopi lagi, istimewa, suwun yo mas kopine, heheehe
Jam 10:00 PM
Dari rumah Mas Budi kami akan berangkat menuju pos perijinan, awalnya kami mau titip motor tapi ndak jadi karena di pos perijinan bisa parkir motor, dan Mas Budi + Adik Mas Budi mengantarkan kami sampai di Pos Perijinan.
Jam 10:30 PM
Kami sampai di Pos Perijinan, singgah lagi sebentar sembari mengurus perijinan dan parkir motor, dan Mbah Kera seakan bertemu kenalan lama (penjaga pos), mereka ngobrol.
Jam 11:00 PM
Kami memutuskan untuk mulai mendaki, berdo'a dulu sebelum kami benar-benar mendaki Panderman, buatku ini kali pertama saya mendaki, terkahir mendaki bulan Desember, di tengah-tengah kerinduanku akan gunung, tau-tau kami mendaki Panderman, saya berangkat tanpa persiapan, celana dipinjami Juna, Jaket dipinjami Juna, Sarung tangan juga dipinjami Juna, Buff dipinjami Juna, Kaos dipinjami Juna, pendakian kali ini ada yang berbeda, saya ndak bawa SB, tapi saya bawa selimutnya Juna, hahhahaha. mosok ke gunung bawa selimut, tapi bermanfaat :)
Yo iki selimute
Jam 11:45 PM
Kami sampai di Latar Ombo, banyak yang mendirikan tenda disana, kami berhenti sejenaj, kata Mbah Kera '2 menit buat ngrokok', dan Mbah Kera mulai lapar, sambil rokokan sambil nyari-nyari roti di tas Mbak Reni, saya lihat jam tangan saya sudah jam 12:00 AM. Saatnya melanjutkan perjalanan lagi, dari Latar Ombo menuju Watu Gede.
Jam 12:00 AM
Saya mengajak berangkat lagi, dan langkah gontai mulai menghampiri, lapar membuat merusut-merusut, mata mulai tenglur, rasa sudah tidak tahu jatuh cinta apa bukan, ini jalan apa sungai kok licin begini, berdiri saja rasanya sudah ogah-ogahan, ngantuk campur mbuh opo, sak karepmu sayang... Watu Gede sudah terlewati, sekarang kita istirahat dulu di Puncak bayangan selama kurang lebih 15 menit.
Gak ngurus jam lagi, pokoke kita harus sampai di puncak 2000 mdpl ini, jam 02:00 AM, ternyata aku ketiduran di Panderman, loh kita sudah sampai to? hahahaha, saya pakai jurus dewa mabuk kayaknya, jalan aja sempoyongan, nglibet-nglibet tiba-tiba ketiduran di dalam tenda, kapan kita mendirikan tendanya?
Jam 05:30 AM
Suara-suara monyet, suara-suara orang-orang yang sudah bangun berisik sekali, ngapain sih mereka itu?, pas aku inguk-inguk ke luar, eh lakok di depan pintu tenda kami ono bokong gak kanggo, kudu tak sepak jane, tapi aku sadar, koyo ngunu iku gak apik, dadi tak usir alon-alon, mas-mas... permisi ya, bokongmu menghalangi pandanganku, mosok baru buka tenda pemandangane bokong, gak enak banget.
Mas iki jarene ora popo, Rotine digondol Tenyom
Wes a, yang semestinya baru buka tenda itu pemandangannya embun, kabut, pohon2, langit, deh iki kok bokong, yoweslah, bokongnya sudah pergi, mari kita ikuti naluri untuk menikmati pagi yang kesiangan ini, sing penting nggunung, dan ngopi di ketinggian.
Ada cerita tentang Mbak Reni, Mbak Reni bangun paling bontot sendiri, dia bangun jam 09:00 AM, Mbak Reni ON selama 24 jam tanpa istirahat, dia berangkat dari jakarta jam 02:00 AM (kemaren), makanya bangun paling bontot, wonder women yang selalu berpose seperti pahlawan bertopeng... bibibibibibippp
Langganan:
Postingan (Atom)