Jumat, 07 Februari 2014

Museum Ullen Sentalu - Kaliurang - Jogja Istimewa

Museum Ullen Sentalu, terletak di daerah Pakem, Kaliurang, Kabupaten Sleman, adalah museum yang menampilkan budaya dan kehidupan para bangsawan Dinasti Mataram (Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, Praja Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman) beserta koleksi bermacam-macam batik (baik gaya Yogyakarta maupun Surakarta).
Museum ini juga menampilkan tokoh raja-raja beserta permaisurinya dengan berbagai macam pakaian yang dikenakan sehari-harinya.

Nama Ullen Sentalu merupakan singkatan dari bahasa Jawa: “ULating bLENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku” yang artinya adalah “Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”. Filsafah ini diambil dari sebuah lampu minyak yang dipergunakan dalam pertunjukkan wayang kulit (blencong) yang merupakan cahaya yang selalu bergerak untuk mengarahkan dan menerangi perjalanan hidup kita. Museum ini didirikan oleh salah seorang bangsawan Yogyakarta yang dikenal sangat dekat dengan keluarga keraton Surakarta dan Yogyakarta.

Di Museum Ullen Sentalu, dapat diketahui bagaimana para leluhur Jawa membuat batik yang memiliki arti dan makna yang mendalam di dalam setiap coraknya. Ada juga berbagai sejarah mengenai keadaan budaya Jawa kuno dengan segala aturannya. Keadaan museum yang dibangun dengan baik, mampu membuat pengunjung seperti terserap ke masa Jawa kuno yang mengagumkan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Ullen_Sentalu)

Atau kamu bisa mengunjungi http://www.ullensentalu.com/profile.php.

Pertama kali masuk kita dibawa menelusuri Goa Sela Giri yang dinding-dindingnya dibangun dari material batu yang langsung diambil dari Gunung Merapi menuju ruang Seni dan Gamelan, Di ruangan luas ini terdapat seperangkat gamelan yang merupakan hadiah dari Kesultanan Yogyakarta. Sayang sekali saya dan teman-teman saya tertinggal beberapa menit dari rombongan yang ada di depan kami.

Ruangan setelah ruang seni dan gamelan adalah ruang pamer foto para tokoh dari 4 keraton Kerajaan Mataram. Masing-masing lukisan dan foto punya cerita sendiri, salah satunya adalah lukisan 3 dimensi. Mata wanita di lukisan ini akan mengikuti langkahmu kemana pun kamu melangkah, penjelasan guide yang sangat detail juga cepat tak banyak tercatat olehku, salah satu yang saya ingat juga adalah Raja yang punya 2 permaisuri dan 39 selir yaitu Pakubuwono X1, heuheuheu.


Setelah lorong itu kami berjalan lagi menuju Ruang Puisi. Di sini terdapat kumpulan puisi yang ditulis untuk Tineke, putri Sunan Surakarta yaitu Pakubuwono XI. Pada waktu itu, Tineke sedang mengalami jatuh cinta pada seorang pangeran dari kerajaan lain tapi tidak direstui oleh orang tua Tineke karena beda kasta. Puisi-puisi itu ditulis dari tahun 1939-1947, ditulis oleh para sepupu dan sahabat Tineke untuk menghibur Tineke biar cepet move-on.

Ini lho salah satu Puisi yang sempat saya catat

Tineke Sayang

Yang terakhir dalam albummu
Itu tetap saya ingat
Yang terakhir dalam hatimu
Itu sungguh akan menyakitkan

Sahabat Wanitamu
Jile Portier
Pakubuwono X1 (Foto Dinding) - Sengaja menggemukkan badannya supaya pangkat yang dipajang dibajunya muat.

Setelah itu, kami dibawa mengarungi kebudayaan batik di Ruang Batik Vorstendlanden dan Ruang Batik Pesisiran (Batik Solo dan Batik Jogja). disana terdapat koleksi batik dari era Sultan Hamengkubuwono VII hingga Sultan Hamengkubuwono VIII. Batik dari solo terlihat lebih femininim daripada batik dari Jogja, warna yang mendominasi Batik Solo adalah warna coklat muda sedangkan warna yang mendominasi Batik Jogja adalah warna coklat tua.


Sekarang kami menuju Ruang Putri Dambaan, sebuah ruangan yang khusus dibuat untuk putri tunggal Mangkunegara VII yaitu Siti Nurul Kusumawardhani. Sesuai namanya, beliau memang putri dambaan banyak pria. Kecantikannya tersohor lintas kerajaan. Ir. Soekarno dulu juga mendambakan putri cantik ini dan melamarnya, tapi karna prinsipnya yang tak mau dipoligami (dan satu satunya putri yang menentang tak mau di poligami) maka lamaran Ir. Soekarno ditolak. Gusti Nurul menikah di usia 32 tahun dengan lelaki yang dicintainya. Di ruangan ini terdapat dokumentasi foto semasa dirinya kecil, hingga sekarang berusia 91 tahun dan tinggal di Bandung, Jawa Barat.

Rungan Gusti Nurul lengkap dengan patung beliau dan saya menyenggolnya sedikit, degdegan lek sampek ceblok aku langsung pura-pura mati.


Beliau pandai berkuda, pandai menari, ah pokoke sip wes, cantik, pinter, dan saya suka :D


Dan sebenarnya, waktu saya menulis ini saya banyak browsing karena saya banyak lupa tentang rute di dalam Museum Ullen Sentalu, tapi ora popo, yang saya lupa diantaranya istirahat dulu apa melewati koridor yang dipajang Arca dewa dewi Hindu dan Budha.





kami sedang menikamati minuman Ratu Mas yang kata pemandunya bisa bikin awet muda
(merasa awet muda)

Sekarang kami memasuki koridor yang berjejer patung Archa menuju ruang lukisan, salah satu lukisan yang ada disana adalah lukisan bedaya ketawang,


Dalam foto kanan lukisan ini ada lukisan bayangan satu penari, penari bayangan Nyi Roro Kidul

Ini jalan menuju foto yang di samping, gerbang menuju taman.

Juna (Abu-abu)
Mbak Mustami'ah (Hijau)
Yolla (Baju kotak-kotak)
Luki (Kaos hitam)
 
Mbak melankolis (Wulan), Juna, Ibu Negara (Anik), Molly

Mus, Mol, Yolla, Mbak Siska, Irwan+Shanum, Mbak Wulan, Pawe

Foto paling gak nguati yo iki, diantara dua pilihan hahaha

Molly

MUSEUM ULLEN SENTALU
Address.
Jalan Boyong Kaliurang, Sleman Yogyakarta, Indonesia.
Phone. +62 274 895161
Opening Hours.
Tuesday - Monday at 9.00 am - 3.30 pm.
Entrance Ticket.
International, IDR 50.000
Domestic, IDR 30.000

Minggu, 02 Februari 2014

Jogja Tetap Memesona

11 Januari 2014

Kami akan melakukan perjalanan menuju kota impian (impianku), Jogja kota penuh pesona, kota penuh kenangan, kota penuh segalanya (bagiku).

Jam 14:00 WIB start dari kota Malang, semua peserta akan berkumpul di pertigaan biasanya, Molly dan Luki bertugas mengambil mobil di daerah Kalpataru Malang.

Peserta satu persatu berdatangan, Mbak Wulan dari Surabaya sudah hadir di pertigaan, bertemu dengan Yolla, Molly, Luki, Fans, dan Irwan.

Jam 15:00 WIB, mobil sudah dikendarai oleh Luki dan Molly dari Kalpataru menuju Alun-Alun Kota Malang dekat tempat tinggal Juna, Juna siap dengan barang bawaannya, yang banyak sekali, beberapa berisi oleh-oleh buat Mb.Siska, teman Juna di Godean Jogja.

Juna sudah bersama Molly dan Luki, mereka bertiga menuju pertigaan untuk menjemput peserta lainnya yang sudah lama menunggu, jam 16:30 WIB, kami berangkat menuju Kediri untuk menjemput Ibu Negara Ani(k) Muawanah, beserta putri lucunya Shanum.

Setelah perjalanan beberapa jam tepatnya jam 21:00 WIB kami sampai di Kediri, mencari alamat rumah Ibu Negara, akhirnya ketemu juga di pinggir jalan tepatnya di perempatan Bence Ngronggo Kediri.

Sepetinya para peserta mulai lapar, dan gak mungkin cuma makan snikers kami bisa kenyang, pilihan jatuh pada makan pecel di Jl. Doho Kediri, 9 orang peserta sarapan jam 22:00 berjamaah, pecel tumpang.

Sarapan selesai, perjalanan panjang baru dimulai dari Kediri.

Subuh jam 04:00 WIB kami sampai di titik nol Kota Jogja, di Tugu ikon Kota Jogja.






Sabtu, 21 Desember 2013

Turun Gunung Arjuno Via Lawang (Kebun Teh)

Jam setengah 9 pagi waktu jam tangan saya, 5 teman turun duluan, Anu (Juna), Biga, cak Eko, dan pasangan serasi Max dan Yoga.

sedangkan Ana (saya), Ani (Mb.Anik), Dion, Mas Deden dan Lek Gun turun setengah jam setelah tim pertama, keterlambatan ini diakibatkan oleh saya, Mb.Anik dan Dion yang masih menikamati kopi pagi di puncak Arjuno,  hehe kawan-kawan yang lain sampe semremet nunggu kami packing di puncak.


Sebenarnya bukan sengaja berlama-lama di puncak, tapi kami sedang packing waktu teman-teman di bawah sudah siap turun, saya, mbak anik dan Dion belum selesai packing. waktu teman-teman manggil-manggil dari bawah, saya baru pulih, sebelumnya saya masih tiduran di atas batu, saya belum bisa jalan, waktu teman-teman manggil dari bawah, saya bilang 'Aku wes waras' maksudnya saya ngasih kabar baik ke mereka, tapi tanggapan mereka sebel, dikiranya kami sengaja berlama-lama di atas.
 
Mas Deden dan Lek Gun setia menunggu kami tidak jauh dari puncak.
'iku lho bahune mulyadi ditaleni ae, timbang kumat maneh' kata Mas Deden, aseeekkk namaku berubah jadi Mulyadi dengan nama beken cak Moel, dan sampai sekarang tim Arjuno memanggil saya dengan cak Moel, Suwun lho Mas Deden atas nama barunya. Mbois bingit iki

Ekspresi MAs Gun, Yoga, dan Mas Deden waktu nunggu kami (ngapunten nggih)

Perjalanan pulang ini saya ndak bawa apa-apa kecuali kamera dan tongkat, lho lak koyo sotograper a lek ngene, mosok turun gunung gak gowo opo-opo, sombongku turun sak sret, turun via lawang ini membuat kawan-kawan banyak yang njungkel bolak-balik, dan Mb.Anik gagal dengkulnya kumat. Lengkap sudah perjalanan munggah mudun Gunung Arjuno ini dengan cerita 3 cewek sombong, si Anu njungkel sampe semaput, si Ana gagal bahu sampe meraung nangis2 dan umbelen dan si Ani gagal dengkul sampe mringis-mringis di jalan licin.

Setengah jam kemudian tim kancrit (terakhir) turun, sedangkan tim duluan sudah menunggu tim kancrit di bawah, lalu kami bersepuluh (lengkap) turun bersama, reruntutan, mulai tersenyum, setelah agak jauh berjalan kami mandeg di cemoro sewu, istirahat ngocek pelem (ngupas mangga), 8 dari tim belum makan, sedangkan Dion dan Mb.Anik sudah sarapan mie goreng, pasti ke 8 orang yang belum makan ini lapar. Disinilah kami tertawa menertawai telenopela puncak Arjuno, mosok sing loro Ana sing semaput Anu, aduh rek sing mang nangis saiki wes iso ngguyu, yang jadi bahan gojlokan adalah Ana dan Anu.  

Baru iki aku dolen nangis, yo iki, beruntunglah kalian yang pernah tahu saya nangis, jarang sekali saya nangis, di depan banyak orang lagi. haissshhh

Si Max kebelet boker, si Anu juga kebelet ngengek, si Ana kebelet sipip, si Ani kebelet nangis dan kalian tahu rasanya turun gunung sambil ngempet kebelet itu rasanya anu sekali ya, wes bayangno dewe, untung si Max dan si Anu gak keceret di jalan. kalian pejuang yang hebat. prok prok prok

Yoga dan Max

Wajahnya Max sudah kelihatan gak ngenakno saking kebelete, kami jalan lagi, jalan turun penuh semangat membayangkan WC, kalau perlu berlari, tapi karena jalanan sangat licin jadi ketimbang mak bedunduk anu-nya di jalan ya mending kami jalan pelan-pelan saja (perasaan koyo judul lagu).

Akhirnya sampai juga di pos 4 (Nggombes) setelah melewati jalan yang penuh dengan rumput solonjono (kolonjono), juga setelah melewati alas Lali Jiwo yang wingit dan banyak pendaki hilang disana, kami beristirahat lama sembari menunggu mas-mas yang sedang packing, alih-alih kami nunggu padahal saking gak tahu jalan turun, tapi suwun lho mas sudah mau mbarengi kami jadi petunjuk jalan sampe pos 2 meskipun kami jauh ketinggalan di belakang tapi mas-masnya mau nungguin kami.
Pos 4 Nggombes

Sesampainya kami di Pos 2 kami berpisah dengan rombongan mas-mas pemberi petunjuk, mas-masnya turun duluan karena kami masih memasak mie, daaaa mas... sampai jumpa lagi... suwun ya sudah mau mbarengi sampe sini.

Setelah makan kami turun dibarengi mas tangguh penjaga pos, wuh jalannya cepet sekale, pake sendal jepit lagi, duh mas saya ngos-ngosan ngikuti njenengan, masnya jalan dengan gaya trampolin e, jadi kami ikut-ikutan gaya trampolin, lompat kanan, lompat kiri, lompat-lompat wes koyo terwelu lek jare Dion, kalo trampolin kan jatuhnya gak sakit, trampolin kali ini jangan sampai jatuh, soalnya kalau sampai jatuh mesti sak pipis-pipise katut, nanti jadi tambah lucu mending jangan sampai jatuh.

Jalan licin trampolin selesai, berganti jadi jalan bebatuan dengan hamparan teh, sak apik-apike pemandangan kebun teh kalo dinikmati sambil kebelet kok ya kurang pas jadinya, jadi kami tetap saja jalan buru-buru, kalo kebelet gini gak jatuh-jatuh cintaan wes, gak sempet.
Etciee yang udah senyum-senyum

Huaahhh akhirnya sampai juga di pemukiman warga, kami kembali ke peradapan dengan bantuan ojek menuju jalan raya Lawang-Malang, menunggu bus jurusan Surabaya untuk Mb.Anik, setelah mb.Anik pulang kami mencegat angkot, kami dapat angkot menuju Arjosari, dan kami saling bersalaman, senyum, salaman, senyum sampai selesai, pulang ke rumah masing-masing, ingat pulang ke rumah masing-masing bukan tetangga masing-masing.

Special thanks to:
Dion yang bawain bajuku
Biga yang bawain SB-ku dan senterku
Max yang bawain matrasku
Yoga yang bawain sandalku
Cak Eko yang bawain tasku
Juna yang ngringkesi barangku
Mb.Anik yang menemaniku sebelum pulih
Mas Deden dan Lek Gun yang ngasih nama Mulyadi

Transportasi
Malang-Landungsari Rp. 3000,-
Landungsari-Batu (TMP) Rp. 3000,-
TMP Batu-Beji (cangar) Rp. 10.000,-/orang (total 100,000,-)
Lawang-Arjosari Rp. 5000,-
Arjosari-Alun-alun Malang Rp. 3000,-
Senyumku gratisss

Rabu, 18 Desember 2013

Hari ke-3 di Arjuno

Di dalam tenda cewek sombong, tengah malam, ada 1 cewek yang  gak bisa tidur karena gak pakai kaos kaki, kakinya dingin, cewek itu adalah saya, sesekali hampir terpejam tiba-tiba cak Eko bilang 'wes gak usah turu, ngko muncak ambe Biga', begitu kata cak Eko terus-terusan muncul di mimpiku, sampai jam 3 pagipun masih belum bisa terpejam, saat mataku terpejam sebentar, di luar tenda sudah rame, 'Hei sudah hampir pecah warna langit 1 Desember 2013', lek Gun sedang ngomong sama Dion.

Lek Gun membangunkan kami para cewek, dengan segelas susu di tangannya, romantis sekali ya membangunkan lengkap dengan susu yang diberikan kepada kami, suwun lek Gun.

Langit masih gelap, ini jam 4:00 Wib, mari menuju 3339 Mdpl, dari tempat kami ngecamp kami masih butuh waktu sekitar setengah jam karena jalan masih gelap, kami membawa headlamp dan senter beberapa.

Sampailah kami di bendera yang ditancapkan di puncak G.Ajuno 3339 Mdpl, terukir senyum dari semua peserta pagi itu, kami saling mengucapkan selamat, kami sangat lega, sangat bahagia, terharu, inlah puncak Arjuno 3339 Mdpl teman-teman, dengan kilauan cahaya keemasan pagi wajah kami bersinar, kami menatap sang surya di ketinggian ini, kami menjemputnya, Suwun lagi Tuhan atas kesempatan ini.



Lautan awan menghampar luas, coba awan itu bisa kami titi, sudah pasti kami lompat-lompat disana, Diarah timur itu, terlihat Sang Mahameru masih gagah berdiri, dan masih berselimut awan, diarah utara kami melihat putri tidur yang anggun dan cantik itu sedang berselimut awan, wow bisa kalian bayangkan betapa sangat hmmm sekali ciptaan Tuhan.


Patilah kami sibuk dengan berfoto, senyum, ah dengan gaya masing-masih kami sibuk dengan berfoto-berfoto,berfoto, ada yang gaya lompat, ada yang gaya bersalaman, ada yang gaya menulis nama di tangan, ada yang hormat bendera, wes pokoke lengkap.


Rasanya belum lengkap kalau belum berfoto duduk di batu tepian turang, waktu itu Biga duluan, setelah Biga Juna, dan giliran saya akan menapaki batu tepian itu, ada yang tau apa yang selanjutnya terjadi? di suhu yang dingin biasanya yang punya linu-linu kumat, seperti sakit gigi, engkel, bekas cidera, dan bekas cidera saya kumat, heuheuheu

Bebatuan ini sangat indah meskipun minus watu ogal-agilnya Arjuno, menjadi saksi bisu saat saya duduk kesakitan menyandar pada Juna, dan pada saat itu memang hanya ada Juna dan cak Eko, peserta yang lain berfoto jauh dari kami, sedangkan Biga sudah melipir setelah berfoto disini, cak Eko sudah siap menjepret saya dari bawah, tapi karena cak Eko gak ngerti ada apa dengan saya, cak Eko masih di angle-nya menunggu saya berdiri.


Juna: Dee, kenapa Dee?
Saya: Tolong pengangin tanganku Jun
Juna: kenapa tanganmu? (nada panik at the disco)

Setelah itu saya sudah gak bisa berkata-kata lagi, tapi sedikit meraung seperti kidang yang gak bisa meraung seperti srigala, saya menyandar pada Juna, menikamti linu yang luar biasa, sulit bernafas, lalu diam. cak Eko yang menungguku berpose akhirnya bertanya 'kenopo? kenopo?', saya dan Juna sama-sama diam, cak Eko menghampiri kami, saya minta tolong cak Eko memegangi tangan saya sekuat-kuatnya, lalu Mb.Anik datang 'kenopo Mol?'

Juna: Mbak tolong ambilkan air mbak, aku mual, awakku adem panas

Setelah Mb.Anik sudah mengambil air, saya masih menyandar pada Juna, eh Juna pingsan, yoopo iki? sing loro sopo sing pingsan sopo, lalu cak Eko yang memegangi tanganku malah ketambahan tugas memegangi Juna, kasihan cak Eko, kami berempat diam saja, tanpa ngapa-ngapain, saya masih kesakitan, Juna masih pingsan, tapi saya bilang ke cak Eko 'wes cak tanganku wes waras, sampean sadarno Juna sik ae'.

Ditengah-tengah moment terdiam itu, Biga datang 'opoo se?', tapi kami semua diam, tak satupun ada yang menjawab pertnyaan Biga, cak Eko bingung, saya gak bisa ngomong, Juna pingsan, dan Mb.Anik ikut diam, lalu Biga pergi lagi, Biga merasa kami gak kenapa-napa yowis Biga foto-foto lagi sama yang lain.

Batu dimana saya dan Juna duduk adalah 2 batu yang mempunyai sela-sela lubang, waktu cak Eko mau memindahkan Juna ketempat yang lebih aman, eh kaki Juna nyangkut di sela-sela lubang di batu itu, py to ki? aduuhh saya gak bisa ngapa-ngapain lagi. akhirnya Juna bisa dipindahkan ketempat yang lebih luas, dan saya masih diatas batu dengan acting sudah sembuh, tapi tetep aja gak bisa turun.

Biga datang lagi dan tahu Juna pingsan, Biga memangku Juna, selama kurang lebih 10 menitan, saya melihat Juna pucat, mb. Anik mengoleskan minyak kayu putih, gak tahu dimananya, Biga menyuruhnya bangun, cak Eko juga, saya nyuruh mb.Anik menekan tangan juna, disela-sela antara jempol dan jari telunjuk tapi mb.Anik hanya memeganginya bukan menekannya.

Aku gak srantan suwe-suwe, dengan sedikit berusaha sendiri, saya menuruni batu itu, Juna tak tampar, bentak 'Jun tangi Jun', saya tekan tangannya, sebayak 3 kali sebelum akhirnya Juna bangun. Suwun Tuhan

Sekarang ganti saya yang jadi pusat perhatian, baru kali ini jadi pusat perhatian kaya begini ni, saya tertunduk, pada tepatnya menunduk, ketika dipijat Dion, sakitnya sungguh asyik, tiba-tiba di mata ini keluar air, yek aku nagis own, ngguilani, umbelen pisan aduuuhh Dee Dee, gak mbois blas

Lumayan lama sih meraung, menangis, nunduk terus, sampai mas-mas rombongan dari Malang memberi saya balsem, setelah diolesi balsem sama Mb.Anik agak mendingan sakitnya, ketika teman-teman tahu saya agak mendingan, Juna, cak Eko, Biga, lek Gun, mas Deden, Max dan Yoga kembali ke tenda dan mereka bersiap-siap packing. sedangkan saya gak ikut turun karena kondisi lengan belum memungkinkan, masih semplah, ogal-agil tangan ini, belum bisa berdiri tegak, belum sanggup berjalan gagah, saya ditemani mb.Anik dan Dion.

Juna jadi kerepotan ngringkesi barangku sama barang mb.Anik sendirian, maap Jun kali ini bintang filmnya saya, jadi terimakasih sudah berbaik hari ngringkasi barang bawaanku sekaligus barang bawaan mb. Anik.

Saya leyeh-leyeh saja diatas batu waktu itu, batunya dingin, linunya jadi semakin anu, matahari semakin tinggi, semakin panas, tapi saya pernah dengar hangatnya matahari itu bisa buat sembuh linu-linu, saja jemur saja pundak ini, sambil duduk, agak lama saya bangun, tak terasa ternyata rasa linunya sudah hilang, teori matahari itu tepat sekali, akhirnya saya bisa senyum lagi padahal saya sudah takut gak bisa turun dengan kondisi seperti itu.

Hari ke-2 Di Arjuno

5:22 Wib

Selamat pagi kekasih, embun ini begitu tebal, begitu berkabut, aku merindukanmu.


Pagi-pagi begini biasanya urusan cewek masak memasak, dan saya terjebak dengan tempe di tangan saya, jadi saya yang menggoreng tempe di sarapan pagi ini, 'lek masak iku sing feminim ta' celetuk cak Eko, 'memasak itu gak harus feminim, yang penting jatuh cinta, kalau kamu jatuh cinta masakanmu pasti enak', saya puas dengan menjawab begitu. wenaaaakkk

Si Juna masak kangkung, di team ini ada yang alergi bawang, yaitu lek Gun dan Mas Deden, kok bisa ya alergi bawang, lha terus maeme mie tok ngunu? ya sudahlah, makan apapun yang penting kuat naik gunung, Lek Gun dan Mas Deden makannya mie dan nasi.


09:06 Wib
Sehabis sarapan, kami packing, kami akaun beranjak menuju Arjuno, harapan saya, nanti sore saya dapat bertemu senja sejingga kemarin, senja yang sangat indah itu, hampir berwarna ungu bahkan mungkin sudah berwarna ungu

Sejauh ini berjalan saya mulai melupakan kertas dan bolpointku, melewati tanjakan, melewati sumber uap air, melewati pohon-pohon oren, melewati sabana, melewati jurang, melewati pinus, melewati langit biru, melewati pepohonan cantigi, dan Saya, Mb.Anik, Juna, Lek Gun dan Mas Deden adalah peserta paling narsis dan jauh tertinggal di belakang.

Sumber Uap Air (Belerang)

Pohon Oren

Sabana

 Pinus

Langit Biru

Cantigi

Akhirnya sampai juga di Lembah Kidang, lembahnya para kidang-kidang, memulai jalan berbatu, jalan menanjak tiada henti, saya, Juna , Mb.Anik, Max, Yoga, Biga, dan cak Eko berjalan berurutan, mengarungi tanjakan-tanjakan cantik ciamik maknyus, cak Eko memberitahu kamu tebing rahasia, tebing yang katanya namanya Watu Gede, sambil merangkak kami menaikinya, sangat ekstrim untuk menaikinya demi berpose disana, dan inilah hasil jepretan cak Eko.

Lembah Kidang (Rusa) 
Pas malam natal Kidang-kidang disini semuanya keluar sama sinterklaas, para Kidang-kidang ini mengantarkan Raden Arjuno turun gunung, ngasih hadiah ke istri-istri Raden Arjuno. (Imanajinasi saya).

Watu Gede

Dion, Mas Deden dan Lek Gun, belum juga menyusul kami, mereka tidur katanya di tengah-tengah perjalanan, ternyata mereke bikin video goyang oplosan, hahaha jadi kami berjalan duluan.

Sore ini, kami beristirahat di puncak bayangan, Juna, Mb.Anik dan Cak Eko menunaikan ibadah sholat ashar, Mb.Anik duluan, sehabis itu Juna, setelah sholat Juna masih berdo'a dan lama sekali, usut punya usut Juna bingung mau berdoa apa di puncak bayangan itu, do'a yang dipanjatkan Juna adalah 'Beri hamba uang', pliss deh Jun, itu lirik lagunya bang Iwan Fals kaleeeee.... heuheuheu.

Istirahat selesai, kami melanjutkan pendakian dan mencari tempat yang nyaman untuk mendirikan tenda di dekat pucak G.Arjuno 3339 Mdpl (angka yang ganteng), kami menyusuri tempat-tempat di dekat puncak dan kami tiba di tempat in memoriam para pendaki, kami menyempatkan mengirim doa untuk mereka, doa dipimpim oleh Biga.


Setelah berdoa selesai kami melanjutkan mencari tempat untuk mendirikan tenda sembari menunggu Dion, Lek Gun dan Mas Deden, setelah mereka datang kami memutuskan mendirikan tenda di tempat sebelum in memoriam, lokasinya tidak jauh dari situ, 3 tenda selesai didirikan, dan kami menunggu senja, tapi kabut berdatangan hilir mudik tak henti-hentinya, sangat tebal dan sampai magrib tiba tidak ada kilauan emas yang kami lihat di langit Tuhan, ketika langit tak kunjung senja saya sedih.

Mb.Anik sholat magrib duluan, setelah itu disusul oleh Juna, seusai Juna sholat, saya menyusul sholat, seusai sholat saya berdoa memejamkan mata, setelah saya membuka mata, saya melihat langit yang begitu jungga, dan itu mengharukan, Suwun Tuhan atas keindahan yang Engkau tunjukkan kepada kami, kami langsung mengambil kamera masing-masing, berlarian karena tak ingin ketinggalan moment, jepret-jepret-jepret, kami sangat bahagia sekali, sekali lagi Suwun Tuhan.






Setelah menikmati senja yang amat sangat indah, kami memasak, berapi unggun, meminum kopi, bernyanyi, bercanda, dan masih mengingat senja yang sudah terukir di otak kami masing-masing, malam ini sungguh indah, cahaya jingga itu sudah berubah menjadi bulan sabit dan bintang yang sangat terang, yen dieling-eling, yen dieling-eling manise ora iso ilang begitulah lagu yang terdengar dari mp3 palyernya cak Eko.


Rasanya tak ingin masuk tenda, pengennya di luar saja, menikmati sejuknya Arjuno ini, rasanya ingin menambah kopi ke-3, sambil terus menerus mengucap Suwun Tuhan, tapi lelah ini menggiring kami mengakhiri kopi Arjuno ke-2, ini masih jam 22:00 Wib, satu persatu peserta berguguran masuk ke dalam SB masing-masing, saya dan cak Eko adalah peserta terakhir yang masuk tenda, baiklah saatnya mengucap selamat tidur teman-teman.